Pembangunan PLTA Seko Power Prima AkanTenggelamkan Enam Desa

Andri – Daniel Sempat Ditahan Polres Luwu Utara

13248505_10209600147987709_581198507850260216_o (1)
Andri dan Daniel sesaat setelah dilepas Polres Luwu Utara

MASAMBA 20/5/2016 – Jika Pembangunan Mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Seko, di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara tetap dilaksanakan akan  menjadi bencana besar bagi ribuan jiwa masyarakat pedalaman di daerah tersebut. Pasalnya, sejauh ini warga tetap menolak dengan berada di lokasi yang telah diwariskan nenek moyang mereka sejak puluhan tahun silam.

Di lain sisi, jajaran pemerintah daerah yang dikepalai Indah Putri Indriani-Thahar Rum itu dan khususnya PT Seko Power Prima tetap ngotot dan bahkan sudah mulai melakukan pengerjaan terhadap pembangkit yang bakal menghasilkan 480 MW daya listrik tersebut. Ketakutan warga itu disampaikan langsung dua perwakilan masyarakat Kecamatan Seko, ketika berkunjung ke Rumah Aspirasi Amran SE, Kota Palopo, (Kamis sore, 19/5/2016).

Menurutnya, penolakan warga atas mega proyek itu sebab akan menenggelamkan sedikitnya enam desa yang masuk kawasan pembangunan DAM PLTA. Sementara dua desa lainnya akan dijadikan jalur pembangunan pipa air raksasa pembangkit listrik tersebut.

“Kami warga tetap menolak karena hingga saat ini belum ada solusi dari pemerintah dan perusahaan. Sementara itu, secara otomatis kami akan digusur dari tanah kelahiran yang sudah menjadi tempat menggantungkan hidup selama ini,” tutur Andri, diiyakan Daniel, dua perwakilan warga Seko, saat bertandang ke Rumah Aspirasi

Didampingi Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Luwu Raya, keduanya juga menjelaskan bahwa terhadap mereka sempat dilakukan penahanan oleh jajaran Polres Luwu Utara karena tetap menolak proyek APBN tersebut.

“Kami juga kaget, langsung dijemput empat polisi dan tiga tentara. Kami diinterogasi 1×24 jam di Polres Luwu Utara. Padahal, sejauh ini kami hanya menyampaikan penolakan secara tertib ” jelasnya. Harusnya, sambung dia, pemerintah dan aparat keamanan tetap mendengar keluhan warga. Tidak memaksakan pembangunan proyek tersebut. “Pak wakil bupati yang sempat hadir di kampung kami sebenarnya sudah memberikan lampu hijau untuk membicarakan ulang masalah ini. Tapi, kenapa tiba-tiba saya dan Andri langsung ditangkap,” kata Daniel.

Warga menyatakan sikap bahwa tetap menolak proyek itu. Sebab, data yang diserahkan aparat desa ke pemerintah sebagai bentuk dukungan diduga sarat rekayasa. “Ada informasi masuk ke pemerintah bahwa ada 63 persen warga yang menerima proyek itu. Sehingga DPRD dan pemda tetap ngotot PLTA tersebut harus dibangun. Padahal, sejauh ini tidak pernah ada pertemuan dengan aparat desa dalam memabahas masalah ini. Tiba-tiba ada surat pernyataan yang menyebutkan dominan mendukung proyek ini,” tegasnya.

Desa yang akan ditenggelamkan proyek PLTA ini ada enam desa karena masuk kawasan DAM, yakni Desa Padambalua, Ono, Padang Raya, Marante, Taroto, dan Lodang. Dua desa yang masuk kawasan pembangunan pipa air raksasa yakni Desa Embonatana dan Desa Tana Makaleang, Kecamatan Seko.*** Infokom PW AMAN Tana Luwu

3 comments

  1. SETIAP INDIVIDU PASTI PUNYA PEMAHAMAN SENDIRI, SEHINGGA MEREKA DAPAT MENDESKRIPSIKAN SESUATU DENGAN BUAH PEMIKIRAN SENDIRI. TANPA MENGANGGAP PERLU UNTUK STUDY TENTANG SUATU TOPIK MASALAH. TERKAIT RENCANA PEMBANGUNAN PLTA OLEH PEMERINTAH DI WILAYAH KEC.SEKO TERSEBUT SUDAH PASTI MENUAI PRO DAN KONTRA DARI MASYARAKAT SETEMPAT, DALAM ARTI ADA YG SETUJU DAN ADA YG TIDAK SETUJU DENGAN PEMBANGUNAN PLTA DI KEC . SEKO.

    ITULAH DINAMIKA DALAM BERMASYARAKAT, PERBEDAAN PENDAPAT DAN PEMAHAMAN ITU TAK DAPAT DI HINDARI.

    NAMUN SAYA PRIBADI SEBAGAI ORANG YANG LAHIR DAN BESAR DI TANAH SEKO YANG SEKARANG BERADA DI PERANTAUAN MENCARI SESUAP NASI , SANGAT MENGINGINKAN AGAR SEKIRANYA DAERAH KELAHIRAN KAMI, TANAH LELUHUR KAMI DAPAT TERBANGUN DEMI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. Karena TELAH BERPULUH-puluh TAHUN DAERAH INI DIHUNI , BAHKAN SEBELUM ZAMAN PENJAJAHAN BAIK JEPANG MAUPUN BELANDA KEBERADAAN MASYARAKAT SEKO SUDAH ADA JAUH SEBELUM MASA TERSEBUT.

    SEKO BUKANLAH DAERAH YG BARU TERHUNI, NAMUN PADA KENYATAANNYA TAK ADA PERIODE PEMERINTAHAN YANG BECUS MEMPERHATIKAN DAERAH KAMI INI. DARI PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI DAN DAERAH BELUM ADA PROGRAM YG DI RENCANAKAN TEREALISASI DENGAN BAIK UNTUK PEMBANGUNAN KEC.SEKO.

    OLEHNYA ITU SAYA PRIBADI SEBAGAI ANAK KELAHIRAN DAN DARAH ASLI SEKO, MENDUKUNG ADANYA RENCANA PROGRAM PEMERINTAH UNTUK MEMBANGUN PLTA DI KECAMATAN SEKO.
    KARENA DENGAN TEREALISASINYA PROGRAM TERSEBUT SAYA YAKIN ITU AKAN MEMBAWA PERUBAHAN BESAR UNTUK SEKO LEBIH BAIK LAGI.

    JADI INTINYA, BAGI SAYA TIDAK ADA KOMENTAR TENTANG SAUDARA-SAUDARIKU DARI SEKO YANG MENOLAK PEMBANGUNAN PLTA TERSEBUT. SEMUA PASTI PUNYA ALASAN DAN PEMAHAMAN TERSENDIRI .. MENOLAK DAN MENDUKUNG PEMBANGUNAN PLTA DUA-DUANYA ADALAH SIKAP YANG MENGANDUNG UNSUR POSITIF UNTUK SEKO YANG LEBIH BAIK.

    TERIMA KASIH,

    Salam//
    Yusran Amrin S.Ip

  2. Yang saya Cp ini terlalu mengada-ada, pembohongan Publik, khususnya desa yang akan tenggelam. Mohon PW AMAN Tanah Luwu, mengkoreksi berita tidak benar seperti di bawah ini :

    Desa yang akan ditenggelamkan proyek PLTA ini ada enam desa karena masuk kawasan DAM, yakni Desa Padambalua, Ono, Padang Raya, Marante, Taroto, dan Lodang.

    Ini pembohongan publikk.

  3. SAYA JUGA KELAHIRAN SEKO,PENDAPAT SAYA SEMUA PROSES YG AKAN DILAKUKAN INVESTOR TERLALU MENGANGGAP BAHWA MASYARAKAT SEKO ITU PADA UMUMNYA BISA DI TAKUT TAKUTI DENGAN APARAT…MAKLUM SEMUA INVESTOR BANYAK UANG APAPUN BISA DI BELI ,APARAT DAN PEMERINTAH SDH KALAP .MASYARAKAT BINGING YG MEREKA LINDUNGI INVESTOR YG NOTABENE KEPENTINGAN PRIBADI N UNTUNG SENDIRI,EHHH PARA PENGUASA TU SEKO BUKAN ORANG MISKIN YA GAK PERLU BUAT PROJEK KLO MAU BANGUN CUKUP INFRA STRUKUR SAJA BIAR KAMI SEJAHTERA DENGAN EKONOMI KAMI YG ADA SEKARANG KAMI KEMBANGKAN SENDIRI…SAYA YAKIN CINA INVESTOR TDK AKAN MAU PROSES (COMDEV) DULU.KLO PAK GINANJAR KURLI MAU TRANSPARAN SAJA ITU INISIATIF PEMERINTAH PUSAT ATO DAERAH….,JANG JELAS DONG.JANGAN ANGGAP ORANG SEKO TDK PUNYA PEMIKIRAN UNTUK MEMBANGUN DIRI MEREKA .
    BOLEH TANYA PAK INVESTOR ?
    1.DALAM PROSES PLAN SIAPA SJ YG ANDA LIBATKAN
    2.DALAM PROSES APAKAH SDH DI PERTIMBANGKAN DAMPAK LINGKUNGAN BAIK ITU TERHADAP MASYARAKAT MAUPUN RODA PEREKONOMIAN MASYRAKAT.
    3.DALAM TAHAP TUJUAN SEBERAPA BESAR DAMPAKNYA TERHADAP EKONOMI MASYRAKAT SEKITAR.

    LANJUT DALAM PROSES PLAN AMPE TUJUAN ADA GAK JAMINAN MASYARAKAT SEKO TDK TERGANGGU.
    PAK INVESTOR ……TOLONG JANGAN KORBANKAN MASYARAKAT KECIL.KASIHAN……….MEREKA ADALAH YG PUNYA TANAH SEKO,PEMERINTAH DUKUNG KAMI…JANGAN DONG PIHAK KE INVESTOR YG BANYAK DUIT.
    KLO YG DUKUNG IBU DAN BAPAK JADI PIMPINAN KAN KAMI BUKAN MEREKA PAK.
    KLO TOH Emang di paksakan kasih penjelasan yang benar sesuai logika jangan paksa pakai aparat.
    mereka juga manusia yg punya moral kog main tangkap ,klo memang mereka merusak itu karena ad penjelasan yg mereka belum mengerti.pak klo mao sistim kekerasan sdh bukan waktunya…
    sy yakin pak klo mau sistim ini yang di pakai ini akan berkepanjangan mereka kuasai medan ,jangan lupa pak mereka adalah turunan yg hidup dari berburuh tdk menutup kemungkinan di saat mereka sdh tdk nyaman mereka akan melakukan apa sj .
    jangan bentuk pola pikir masyrakat ke arah yg ekstrim ,pasti mereka tdk akan menyerah,saya tahu karakter orang di sana ketika hak mereka di ganggu.mereka akan mencari tahu sendiri sampai dapat entah itu cara yg baik atau tdk baik.klo pemerintah berpikir mau perbaiki mulailah dengan yang baik walau itu terasa berat,….mereka pun (orang seko )punya nurani yg terbentuk sejak dari dulu,hidup saling menghargai.
    ampir lupa …mereka butuh hidup alami bukan janji muluk2.
    buat pengurus AMAN dari pusat sampai daerah silahkan berbisnis tapi jangan korbankan saudara2 kita di seko.
    bapak ibu investor jangan selalu berpikir segala sesuatu bs di ukur dengan materi mangabaikan kebahagiaan yg hakiki walau hidup sederhana.
    janga rampas kebahagiaan orang seko.

    salam
    ampona to beroppa

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *