Kampung Adat Raba Terancam Diserobot PT ANTAM

Patok PT ANTAM
Patok PT ANTAM Di Kampung Raba

Landak  22/9/2016  ‒  Wilayah adat Komunitas Kampung Raba, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak, Propinsi Kalimantan Barat terancam jadi konsesi Pertambangan Bauksit PT ANTAM. Pemasangan patoknya juga dilakukan tanpa sosialisasi kepada masyarakat adat setempat. Masyarakat Adat Komunitas Kampung Raba menolak masuknya perusahaan dalam bentuk apa pun. Bukit Sapatut tempat ditancapnya patok PT ANTAM merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat adat,  dikhawatirkan akan menggerus Sumber Daya Alam (SDA) yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Bartolomeus Odong (47 tahun) masyarakat adat Komunitas Kampung Raba menceritakan awal mula diketahuinya pemasangan  patok PT ANTAM, saat itu beberapa masyarakat sedang mencari bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan hidup di sekitar wilayah tersebut. Melihat ada aktivitas beberapa orang menancapkan patok di sana, mereka bertanya sedang memasang patok apa? Kemudian kelompok pekerja menjawab sedang membuat patok tapal batas dusun.“Beberapa hari kemudian setelah patok tertancap malah ada tulisan Tambang Bauksit PT ANTAM lengkap dengan nomor izin perusahaan,” jelasnya.

Patok tersebut tepat berada di Bukit Sapatut, dimana terdapat sumber kehidupan tempat masyarakat adat mencari sayur, buah-buahan, hewan-hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mata air dari bukit tersebut mampu memenuhi kebutuhan air minum, mencuci, mandi sebanyak tujuh kampung, yang saat ini mengalir memalui ledeng. Di puncak Bukit Sapatut masih ada tempat ritual adat dan di kakinya terdapat kuburan tua (padagi) Timanggong. Pemukiman masyarakat adat Raba pernah berada di kaki Bukit Sapatu, sebelum berpindah, bersebelahan dengan Kampung Arek dan Gomank semuanya adalah Suku Dayak Kanayant. “Tempat dimana mereka pernah bermukim tersebut diberi nama  Timbawang, hingga saat ini hak milik dan kelolanya tidak boleh diberikan kepada siapa pun karena milik kelompok (Gomakng),” papar Bartolomeus.

David (50 tahun) masyarakat Komunitas Kampung Raba mengatakan masyarakat adat Kampung Raba menolak adanya perusahaan masuk ke daerah mereka baik berupa perkebunan atau pun pertambangan apalagi tanpa sosialisasi. Pemasangan patok PT  ANTAM pasti ada hubungannya dengan perangkat desa dan tokoh adat. Seharusnya mereka melakukan sosialisasi dan transparan kepada masyarakat sebelum melakukan pemasangan patok untuk mengetahui apakah masyarakat setuju atau tidak. Kekhawatiran masyarakat adat berdasarkan dari pengalaman sebelumnya. Pada tahun 1990-an pernah ada perusahaan masuk ke wilayah adat mereka, perjanjian yang dibuat pinjam pakai artinya tanah akan kembali kepada masyarakat jika selesai masa kerjanya. “Tetapi yang terjadi ketika PT. Agrina (perusahaan kelapa) PT. Rokan (Perusahaan Kelapa Hibrida bangkrut, tanah masyarakat dijual oleh perusahaan dan tanah tersebut disertifikatkan oleh perusahaan,” ungkapnya.

Dia meminta para tokoh adat dan perangkat desa jangan selalu mengatas namakan masyarakat tanpa sosialisi kepada masyarakat. Harusnya sosilasi dibuktikan dengan dokumentasi foto atau absensi peserta yang hadir, supaya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dapat dipertanggung jawabkan dan jika menguntungkan hasilnya dapat dinikmati bersama. Sebab sebelumnnya perusahaan tidak pernah menguntungkan masyarakat. Perusahaan mempekerjakan masyarakat hanya satu tahun atau lebih, dengan alasan sumber daya manusianya tidak mencukupi, sehingga mendatangkan pekerja dari luar.“Jika hal itu terjadi akan menimbulkan kecemburuan sosial yang dapat menimbulkan protes spontanitas berakhir pada kriminalisasi terhadap masyarakat adat,” tambah David.

Pemerintah harus melindungi rakyatnya, bukan malah menghancurkan sumber kehidupan mereka. Masyarakat sudah merasa nyaman dan tentram bisa mengambil hasil-hasil alam  Bukit Sapatut. “Biarkanlah mereka tetap mencari kehidupan seperti sayur, ikan dan binatang lainnya untuk dikonsumsi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Lahan berladang saat ini sudah sangat sempit, masyarakat hanya bisa bersawah akibat kehadiran  perusahaan sawit.Mereka tidak ingin lagi SDA-nya habis, seperti diketahui kadar bauksit di Kecamatan Menjalin khususnya Raba dan Nangka menduduki kwalitas bauksit terbaik di Kecamatan Menjalian mengalahkan Kecamatan Tayan,” jelasnya **** Paulus Ade Sukma Yadi